October 22, 2008 : 7:15 pm
Sebuah tulisan yang pernah saya posting di sini tanggal 12 Agustus 2004 jam 1.41 PM
Pernah seorang teman berkomentar …
"ngapain sih kamu ambil foto yang kayak gitu ? kayak gak ada yang lebih bagus aja !".
Maaf, mungkin kita sedikit berbeda dalam mencerna. Sepintas lalu memang dianggap tak berharga, tapi suatu saat nanti kamu akan mengerti betapa gambar ini begitu bermakna, ya begitulah aku menjawab seadanya.
Di bangku becak bapak itu tertidur pulas. Mari kita korek … dibenakmu apa saja yang terlintas, gak usah dengan kata yang muluk-muluk pakai saja bahasa yang lugas dan jelas. Ingat, ini bukan soal-soal ujian untuk masuk universitas ataupun UAS.
Inilah dunia nyata, dunia orang-orang yang kita anggap berada di bagian bawah dari urutan tangga sosial yang entah siapa pertama kali memberi istilah. Jika kita juga punya istilah yang sama untuk mereka … maaf … ternyata kita salah, mereka bukan orang yang berada pada tangga yang kita pikirkan … mereka bukan orang-orang terbawa oleh nasib yang selalu kita dengungkan.
(more…)
October 21, 2008 : 9:20 pm
Aku menatap langit, biru cerah tak berawan, tak berbatas. Namun sayang, pemandangan indah itu tak bisa sepenuhnya kunikmati. Pandanganku tak bebas karena sebutir airmata yang perlahan keluar menutupi celah mata. Wajahku mendung sembab, bibirku bergetar-getar halus dan hidungku mulai basah merasakan cairan yang memenuhi rongga hidung. Dan…isak tangisku yang tertahan mulai terdengar pelan.
Apa ? kenapa ? kenapa aku jadi seperti ini, cengeng dan tak lagi tegar setegar aku meyakinkan ibu dan ayah ? tak selantang aku mengacungkan tangan dan menunjuk ke ufuk timur "Aku akan pergi kesana !". Mana… mana aku yang tegar bak karang dihempas gelombang ? Mana semangat yang membara menggelora membahana membelah angkasa ?
Walaupun sekuat tenaga aku menahan, tetap saja air mata itu tak bisa kubendung. Meski tak mengucur deras, satu persatu… pelan, dan menetes didagu disaat aku melihat Ibu yang tertunduk dalam, sambil mengusap matanya dengan ujung kain kerudungnya. Ibu yang tak mampu menatap anaknya yang sering dia ungkapkan dengan "Si Keras hati" sebentar lagi akan berangkat pergi. Aku yang tidak bisa menahan gemuruh dada, disaat melihat ayah menatap langit dari jendela rumah sambil melipat tangan memandang jauh tak berujung.
(more…)
: 12:45 pm
Ya Alloh, Kapankah aku tak kan lagi punya dosa ? Apakah setelah aku mati ? Kalau begitu, mungkin Kau percepat saja tarik roh dari tubuhku.
Atau lumpuhkan saja badanku, butakan mataku, tulikan pendengaranku, kelukan lidahku, buntungkan tanganku, amputasikan kakiku, idiotkan pikiranku.
Tapi … jika itu Ridho Mu, Apakah aku sanggup ? Apakah aku ikhlas ? Apakah aku tak menyesal ? Ternyata hati kecilku yang paling dalam berucap "tidak !"
Allohu ya Robbi,
Ternyata akulah manusia yang paling berkeluh kesah, manusia yang paling egois, mau seenaknya sendiri, yang tak mau masuk nerakaMu, masuk syorgaMu pun tak mampu, Dikasih ridhoMu pun tak sanggup, Dikasih azabMu pun ku tolak.
Trus, aku ini sebenarnya mau apa ?
October 19, 2008 : 10:22 pm
Alhamdulillah, akhirnya Laskar Pelangi itu saya tonton juga di bioskop 21. Walaupun saya harus menempuh jarak 70 km atau 140 km p-p, dua kali lebih jauh dari jarak yang ditempuh Lintang setiap harinya naik sepeda ontel. Bedanya, Lintang menempuh dengan mengayuh sepeda dan berhadapan dengan buaya. Sedangkan saya duduk manis dibelakang stir mobil pinjaman dan yang saya hadapi truk ponton yang membawa kayu akasia hasil tebangan hutan industri untuk dijadikan pulp alias bubur kertas.
Sendirian ?, ya … saya berangkat sendirian. Tak satupun diantara teman saya yang berminat untuk menontonnya. Wajar saja, karena mereka belum tahu dan belum pernah baca novelnya. Hanya tahu sekilas dari soundtrack grup band Nidji dan pemberitaan yang begitu menggema di media infotainment. Meski saya berkoar-kora promosi film ini sungguh menarik, tetap saja mereka melongo no comment. Cinta ? tak bisa ikut, karena Cinta dan Siganteng masih di kampung halaman. Walhasil dengan tekat sekuat baja saya berangkat juga jam delapan pagi.
(more…)
October 18, 2008 : 11:44 am
Ada langkah lain yang perlu kita lakukan untuk menyelamatkan bangsa kita :
1. Yang mempunyai deposito bertahanlah dengan deposito anda. Jangan ambil uang anda dari bank. Jika anda ikut ikutan mencairkan dana anda maka akan terjadi bank rush, dan krisis keuangan akan semakin parah.
2. Yang memiliki saham dan turunannya, jangan menjual saham dan derivasinya. Jika anda ikut ikutan menjual saham dan turunannya, maka harga saham akan semakin ambruk, dan krisis akan sungguh terjadi semakin parah
3. Jangan ikut ikutan memborong dolar. Jika anda ikut ikutan memborong dolar, maka harga dolar akan semakin tinggi dan rupiah semakin terpuruk. Harga barang impor akan semakin mahal, dan inflasi dalam negeri akan semakin menggila.
4. Jangan panik. Jika anda tidak panik, maka krisis akan cepat berlalu. Perekonomian akan cepat pulih. Harga saham akan cepat rebound. Dolar akan cepat menyesuaikan diri pada kurs yang rasional.
(more…)