suryaaffanmaira.jpg

Sebelumnya

Sebelum menutup tanda silang dipojok layar anda...


Be A Mujahid

Mahasiswa Rantau (Bagian II)

Mahasiswa RantauAku menatap langit, biru cerah tak berawan, tak berbatas. Namun sayang, pemandangan indah itu tak bisa sepenuhnya kunikmati. Pandanganku tak bebas karena sebutir airmata yang perlahan keluar menutupi celah mata. Wajahku mendung sembab, bibirku bergetar-getar halus dan hidungku mulai basah merasakan cairan yang memenuhi rongga hidung. Dan…isak tangisku yang tertahan mulai terdengar pelan.

Apa ? kenapa ? kenapa aku jadi seperti ini, cengeng dan tak lagi tegar setegar aku meyakinkan ibu dan ayah ? tak selantang aku mengacungkan tangan dan menunjuk ke ufuk timur "Aku akan pergi kesana !". Mana… mana aku yang tegar bak karang dihempas gelombang ? Mana semangat yang membara menggelora membahana membelah angkasa ?

Walaupun sekuat tenaga aku menahan, tetap saja air mata itu tak bisa kubendung. Meski tak mengucur deras, satu persatu… pelan, dan menetes didagu disaat aku melihat Ibu yang tertunduk dalam, sambil mengusap matanya dengan ujung kain kerudungnya. Ibu yang tak mampu menatap anaknya yang sering dia ungkapkan dengan "Si Keras hati" sebentar lagi akan berangkat pergi. Aku yang tidak bisa menahan gemuruh dada, disaat melihat ayah menatap langit dari jendela rumah sambil melipat tangan memandang jauh tak berujung.
(more…)

Mahasiswa Rantau (Bagian I)

Mahasiswa RantauBackpack 80 L aku sandang dengan tegapnya, walaupun berat tapi aku berusaha setegar-tegarnya untuk memikul backpack ini. Walaupun tetesan air mata masih membekas di pipiku. Berat memang, karena harus meninggalkan semua kehidupan di kampung halaman. Dan berat juga menyandang backpack karena isinya semua barang kebutuhan tersusun rapi didalamnya.

Aku tahu ini adalah pilihan hidup bagiku. Pilihan yang tidak tanggung-tanggung, pilihan yang akan menentukan arah hidupku selanjutnya. 2 minggu beragumentasi hebat dan alot dengan kedua orang tuaku. Untuk meyakinkan mereka tentang pilihanku untuk berangkat dari bumi ranah Minang ini

"Kamu kenapa sih keras kepala banget ! tidak mau dengar maunya orang tua" kata-kata itu selalu terlontar oleh Ibuku jika saya selalu bilang

"Aku berangkat ke tanah Jawa, jika tidak di Jawa aku tidak akan kuliah".

Memangnya di Pulau Jawa itu ada apa ? entahlah, akupun tidak tahu. Waktu itu dibenakku hanya ada keinginan yang kuat untuk pergi merantau. Itu saja.

"Kuliah disini kan enak, kamu sudah diterima di jurusan favorit. Kurang apa lagi ? kalau nanti kamu kekurangan uang, beras, sambal atau apa saja kamu bisa pulang karena dekat. Kalau di Jawa sana ? kamu mau makan sama apa ? kurang uang, beras, sambal kamu mau minta kemana ?" Kata Ibuku mulai terisak.
(more…)