suryaaffanmaira.jpg

Sebelumnya

Sebelum menutup tanda silang dipojok layar anda...


Be A Mujahid

Baju Pudar, Pakaian Sederhana dan Usang

Semalam, sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan. Saya membuka file-file renungan yang sudah diformat dalam bentuk Mp3, dengan maksud menjadikan teman dalam kesunyian malam. File ini adalah rekaman acara Resonansi Jiwa pada radio Classy FM 103.4 MHz di kota Padang. Sedangkan website resmi radio ini ada disini. File resonansi jiwa ini saya peroleh dari adik ipar saya yang sedang kuliah di Kota Padang. Berikut salah satu cerita yang bisa kita renungkan, yang disadur dari file MP3. Jika anda berminat, file MP3-nya bisa diunduh disini. Semoga Classy FM tidak berkeberatan jika rekaman Resonansi Jiwa saya promosikan disini.

Baju-Baju yang Menipu

Suatu siang yang panas , seorang wanita yang mengenakan baju pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University, dengan maksud ingin bertemu dengan Pimpinan Harvard University.

Ketika sampai di sana , sang sekretaris dari Universitas itu langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge,

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard, bisakah ?" kata pria tua itu dengan lembut.

"Maaf Pak …beliau sangat sibu hari ini" sahut sang Sekretaris cepat.

"Oh ya .. kalau begitu kami akan menunggunya" jawab sang Wanita.

"Silahkan…" sekretaris yang cantik itu menjawab dengan nada yang datar.

Dan selama 4 jam sekretaris itupun mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat untuk menunggu dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Pak … mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi" katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas panjang dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Melihat orang yang ditunggu-tunggunya sudah mencul, wanita tua yang tampak letih itu berkata dengan mata berbinar pada pimpinan Harvard

"Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Jadi maksud kami kesini tuan, adalah untuk mendirikan sesuatu untuk tanda memperingati anak kami di kampus ini, bolehkah ?". Tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Tapi sepertinya sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh sedikitpun, bahkan wajahnya memerah. Dia tampak terkejut,, dan berkata dengan kasar

"Maaf Nyonya !"

"Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal dunia. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti pemakaman"

Mendengar hal itu wanita itupun menjelaskan dengan cepat

"Oh. Bukan itu maksudnya Bapak Kepala". "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard"

Sang Pemimpin Harvard mulai berpikir. Dia menatap sekilas pada baju pudar serta pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak.

"Sebuah gedung?!. hehe … Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7.5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik gedung ini saja"

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Dan Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

Beberapa saat wanita tua itu menoleh pada suaminya dan berkata pelan,

"Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya mengangguk.

Sedangkan Wajah sang Pemimpin Harvard mulai nampak kebingungan.

Akhirnya Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://suryamaira.blogsome.com/2008/10/30/baju-pudar-pakaian-sederhana-dan-usang/trackback/



  1. Comment by adipati kademangan — October 30, 2008 @ 5:23 pm

    DONT JUDGE THE BOOK BY THE COVER / Jangan menghukum buku dengan koper
    Ya logika aja, tidak semua orang menilai manusia dari kopernya, sapa tau bisa dari rumahnya, mobilnya, pekerjaannya, atau tabungannya.
    -dicomot dari internet secara sporadis dan tidak bertanggung jawab-


  2. Comment by suryamaira — October 31, 2008 @ 10:09 am

    # Adipati Kademangan
    Kalo omong-mong soal koper, koper itu dari luar boleh jelek. Tapi dalamnya boss…beda-beda. Ada yang isinya duit aja, ada yang isinya pakaian saja, ada yang isinya surat rumah, surat mobil, buku tabungan… halah-halah dilanjuuuttt



RSS feed for comments on this post.